KELUARGA SEBAGAI UJUNG TOMBAK PEMBINAAN ANAK
Anak
yang baru lahir bagaikan selembar kertas putih. Bagaimana nanti
kedepannya, keluarga dan lingkungannyalah yang akan mewarnainya.
Merekalah yang akan menjadikannya tercemar atau tidak, ada di jalan
lurus atau bengkok.
Anak
adalah rahmat yang harus dipelihara dan dijaga sebaik-baiknya. Sebagai
amanah, ia akan diambil kembali oleh Pemiliknya suatu hari kelak. Khalil
Gibran dalam salah satu karyanya mengibaratkan orang tua hanya berhak
untuk menjadi busur bagi anak-anaknya, mengarahkan ke mana arah yang
akan dituju. Setelah melesat, busurpun takkan lagi bisa mengubah arah
anak panah ke tempat lain.
Sejarah
telah banyak mengajarkan kita bahwa masa depan suatau bangsa selalu
berada ditangan generasi mudanya. Kesadaran untuk mencerdaskan anak dan
menanamkannya nilai-niali luhur tentulah dimiliki oleh setiap orang tua
yang bijak. Persoalan dalam pendidikan keluarga adalah bahwa pengorbanan
dan kerja keras para orang tua yang mengharapkan anak-anak cerdas ini,
seringkali tidak disertai dengan kesadaran dan pengetahuan yang memadai
tentang mencerdaskan anak itu sendiri. Banyak orang tua yang berpendapat
bahwa tugas mencerdaskan anaknya adalah tugas para guru dan institusi
pendidikan, sementara mereka sendiri asyik dengan profesinya. Padahal
seharusnya orang tua juga berperan dalam mendidik dan menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak.
Kurangnya peranan orang tua
Rumah
adalah pondasi utama untuk mendidik anak, sedangkan banyak orang tua
kini lebih mengandalkan sekolah sebagai tempat utama bergantung mendidik
anaknya. Sebagian
lagi menyerahkan kepada pembantu rumah tangga yang banyak di antaranya
tidak punya bekal sedikitpun untuk mendidik anak, karena memang bukan
tugasnya. Kurangnya peran orang tua menanamkan nilai-nilai luhur
dan budaya kepada anak dipandang sebagai salah satu penyebab lunturnya
nilai luhur kebudayaan sekarang.
Secara
tak sadar, orang tua terkesan mengabaikan anak dengan berbagai alasan
kesibukan keseharian, sehingga mereka tidak terlalu memperhatikan
anak-anaknya. Oleh karena itu, tanpa disadari nilai-nilai luhur dan kebudayaan pada anak terlihat ada pergeseran.
Dari
peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kalangan remaja saat ini,
seharusnya dapat menjadi pelajaran berharga bagi para orang tua. Pasti
setiap orang tua tidak ingin jika anaknya kelak menjadi manusia yang
tidak berguna bagi bangsanya. Apalagi menjadi faktor persoalan yang
meresahkan bangsa. Telah cukup banyak orang tua yang gagal mendidik
anak-anaknya di masa lalu, sehingga saat ini mereka menjadi anak-anak
yang tidak memiliki nilai-nilai luhur.
Kegagalan
mendidik anak dapat kita lihat dari maraknya kekerasan, tawuran dan
sekian persoalan lainnya. Salah satu penyebab dari persoalan ini adalah
mereka yang gagal dididik. Mereka mungkin tahu bahwa tawuran atau tindak
kekerasan lainnya itu mengganggu keamanan, Tetapi mereka tidak bisa
menerapkan pengetahuannya itu, karena tidak adanya kesadaran dan
kebiasaan yang diajarkan pada mereka sejak kecil.
Pengaruh Globalisasi
Ruang
makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan
komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang
kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya,
pertahanan keamanan dan lain-lain. Teknologi informasi dan komunikasi
adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini,
perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan
berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia.
Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.
Kehadiran
globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara
termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh
positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang
kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya
dan lain-lain akan mempengaruhi nilai-nilai yang hidup dan berkembang
dalam masyarakat suatu bangsa.
Pengaruh
globalisasi begitu cepat merasuk dan mempengaruhi masyarakat terutama
generasi muda. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak
muda kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Hal ini
ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan sehari-hari
mereka saat ini.
Banyak
orang tua berpendapat bahwa anak-anak harus disuguhkan dengan semua
yang berbau modern agar anak mereka tidak ketinggalan dalam dunia
globalisasi. Orang tua menyuguhkan sajian tayangan TV, layanan internet
untuk menjadikan anak-anaknya tidak ketinggalan dalam kemajuan
teknologi. Padahal, jutaan virus ganas yang bertebaran dalam tayangan TV
dan di dunia maya begitu mudah melompat ke dalam otak anak tanpa
disadarinya.
Teknologi
internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan
dapat diakses oleh siapa saja. Apalagi bagi anak muda internet sudah
menjadi santapan mereka sehari-hari. Jika digunakan secara semestinya
tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan
mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang
menggunakan tidak semestinya. Misalnya,
untuk membuka situs-situs porno. Pada saat ini juga, banyak remaja yang
berdandan seperti selebritis yang cenderung mengikuti budaya barat.
Mereka menggunakan pakaian minim yang memperlihatkan bagian tubuh yang
seharusnya tidak kelihatan. Padahal cara berpakaian tersebut jelas-jelas
tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka
yang dicat beraneka warna. Pendek kata, orang lebih suka menjadi orang
lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau
melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai
dengan kepribadian bangsa. Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang
tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada
rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan
dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh
nyatanya adalah adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan
kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.
Jika
pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau jadi apa genersi muda
tersebut? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis
antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan
berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan
rasa peduli terhadap masyarakat. Selain itu juga, terjadinya pengikisan
nilai-nilai luhur pada generasi muda yang mengakibatkan hilangnya nilai
moral bangsa dan hilangnya jati diri bangsa. Padahal generasi muda
adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa
tidak memiliki rasa nasionalisme?
Membendung pengaruh globalisasi
Sebenarnya
Bangsa Indonesia sejak dulu telah memiliki nilai-nilai luhur yang telah
tertuang dalam Pancasila sebagai falsafah bangsa. Kelima silanya
merupakan falsafah bangsa yang dapat menjadi rujukan setiap tindakan
generasi bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila
mengajarkan rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi sebagai bangsa
yang bermartabat. Kalau kita berharap kehidupan bangsa maju dan
sejahtera, kuncinya ada dalam pengamalan kelima sila tersebut. Sayangnya
saat ini Pancasila hanya menjadi karakter bangsa Indonesia yang
terlupakan. Seandainya orang tua bisa berkomitmen tinggi mendidik
anaknya dengan nilai-nilai luhur Pancasila, bangsa kita di masa depan
akan jauh dari kekerasan, teror, ketidakadilan, hingga sekian persoalan
lainya, yang kita hadapi saat ini.
Untuk
menghindari makin lunturnya nilai-nilai luhur di kalangan generasi muda
maka kita sebagai bangsa Indonesia harus tetap memegang teguh
nilai-nilai luhur dalam segala aspek kehidupan. Kita juga harus bisa
memilih secara selektif nilai dan budaya asing yang masuk ke dalam
negeri ini. Selain itu, pemerintah kita harus menyusun ulang kebijakan
tentang pendidikan atau membuat program pendidikan yang nantinya akan
menghasilkan generasi bangsa yang cerdas, kreatif, dan bermutu di dunia
internasional.
Dan
tidak kalah penting, peran orang tua dalam membendung pengaruh-pengaruh
negatif arus globalisasi. peran orang tua dibutuhkan dalam menanamkan
nilai-nilai agama dalam kehidupan anak-anaknya, memperhatikan pergaulan
anaknya apakah ia dalam lingkungan pergaulan yang salah atau benar,
mendidik anak-anaknya agar dapat membedakan mana yang baik dan mana yang
buruk.
Dengan
adanya langkah-langkah antisipasi tersebut, diharapkan mampu menangkis
pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap
bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa. Cukup
kegagalan masa lalu, dan tidak boleh kita ulang di masa depan. Ke depan
bangsa ini membutuhkan penerus yang terdidik dengan baik, dan bisa
mengimplementasikan pengetahuannya dalam tindakan konkret.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar