Jumat, 19 Oktober 2012

pengaruh keluarga dalam pembinaan anak

KELUARGA SEBAGAI UJUNG TOMBAK PEMBINAAN ANAK

Anak yang baru lahir bagaikan selembar kertas putih. Bagaimana nanti kedepannya, keluarga dan lingkungannyalah yang akan mewarnainya. Merekalah yang akan menjadikannya tercemar atau tidak, ada di jalan lurus atau bengkok.
Anak adalah rahmat yang harus dipelihara dan dijaga sebaik-baiknya. Sebagai amanah, ia akan diambil kembali oleh Pemiliknya suatu hari kelak. Khalil Gibran dalam salah satu karyanya mengibaratkan orang tua hanya berhak untuk menjadi busur bagi anak-anaknya, mengarahkan ke mana arah yang akan dituju. Setelah melesat, busurpun takkan lagi bisa mengubah arah anak panah ke tempat lain.
Sejarah telah banyak mengajarkan kita bahwa masa depan suatau bangsa selalu berada ditangan generasi mudanya. Kesadaran untuk mencerdaskan anak dan menanamkannya nilai-niali luhur tentulah dimiliki oleh setiap orang tua yang bijak. Persoalan dalam pendidikan keluarga adalah bahwa pengorbanan dan kerja keras para orang tua yang mengharapkan anak-anak cerdas ini, seringkali tidak disertai dengan kesadaran dan pengetahuan yang memadai tentang mencerdaskan anak itu sendiri. Banyak orang tua yang berpendapat bahwa tugas mencerdaskan anaknya adalah tugas para guru dan institusi pendidikan, sementara mereka sendiri asyik dengan profesinya. Padahal seharusnya orang tua juga berperan dalam mendidik dan menanamkan nilai-nilai luhur kepada anak.
Kurangnya peranan orang tua
Rumah adalah pondasi utama untuk mendidik anak, sedangkan banyak orang tua kini lebih mengandalkan sekolah sebagai tempat utama bergantung mendidik anaknya. Sebagian lagi menyerahkan kepada pembantu rumah tangga yang banyak di antaranya tidak punya bekal sedikitpun untuk mendidik anak, karena memang bukan tugasnya. Kurangnya peran orang tua menanamkan nilai-nilai luhur dan budaya kepada anak dipandang sebagai salah satu penyebab lunturnya nilai luhur kebudayaan sekarang.
Secara tak sadar, orang tua terkesan mengabaikan anak dengan berbagai alasan kesibukan keseharian, sehingga mereka tidak terlalu memperhatikan anak-anaknya. Oleh karena itu, tanpa disadari nilai-nilai luhur dan kebudayaan pada anak terlihat ada pergeseran.
Dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kalangan remaja saat ini, seharusnya dapat menjadi pelajaran berharga bagi para orang tua. Pasti setiap orang tua tidak ingin jika anaknya kelak menjadi manusia yang tidak berguna bagi bangsanya. Apalagi menjadi faktor persoalan yang meresahkan bangsa. Telah cukup banyak orang tua yang gagal mendidik anak-anaknya di masa lalu, sehingga saat ini mereka menjadi anak-anak yang tidak memiliki nilai-nilai luhur.
Kegagalan mendidik anak dapat kita lihat dari maraknya kekerasan, tawuran dan sekian persoalan lainnya. Salah satu penyebab dari persoalan ini adalah mereka yang gagal dididik. Mereka mungkin tahu bahwa tawuran atau tindak kekerasan lainnya itu mengganggu keamanan, Tetapi mereka tidak bisa menerapkan pengetahuannya itu, karena tidak adanya kesadaran dan kebiasaan yang diajarkan pada mereka sejak kecil.
Pengaruh Globalisasi
Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain-lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia.  Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.
Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain-lain akan mempengaruhi nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat suatu bangsa.
Pengaruh globalisasi begitu cepat merasuk dan mempengaruhi masyarakat terutama generasi muda. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan sehari-hari mereka saat ini.
Banyak orang tua berpendapat bahwa anak-anak harus disuguhkan dengan semua yang berbau modern agar anak mereka tidak ketinggalan dalam dunia globalisasi. Orang tua menyuguhkan sajian tayangan TV, layanan internet untuk menjadikan anak-anaknya tidak ketinggalan dalam kemajuan teknologi. Padahal, jutaan virus ganas yang bertebaran dalam tayangan TV dan di dunia maya begitu mudah melompat ke dalam otak anak tanpa disadarinya.
Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apalagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka sehari-hari. Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misalnya, untuk membuka situs-situs porno. Pada saat ini juga, banyak remaja yang berdandan seperti selebritis yang cenderung mengikuti budaya barat. Mereka menggunakan pakaian minim yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Padahal cara berpakaian tersebut jelas-jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka yang dicat beraneka warna. Pendek kata, orang lebih suka menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa. Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh nyatanya adalah adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.
Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau jadi apa genersi muda tersebut? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat. Selain itu juga, terjadinya pengikisan nilai-nilai luhur pada generasi muda yang mengakibatkan hilangnya nilai moral bangsa dan hilangnya jati diri bangsa. Padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa. Apa akibatnya jika penerus bangsa tidak memiliki rasa nasionalisme?
Membendung pengaruh globalisasi
Sebenarnya Bangsa Indonesia sejak dulu telah memiliki nilai-nilai luhur yang telah tertuang dalam Pancasila sebagai falsafah bangsa. Kelima silanya merupakan falsafah bangsa yang dapat menjadi rujukan setiap tindakan generasi bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila mengajarkan rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi sebagai bangsa yang bermartabat. Kalau kita berharap kehidupan bangsa maju dan sejahtera, kuncinya ada dalam pengamalan kelima sila tersebut. Sayangnya saat ini Pancasila hanya menjadi karakter bangsa Indonesia yang terlupakan. Seandainya orang tua bisa berkomitmen tinggi mendidik anaknya dengan nilai-nilai luhur Pancasila, bangsa kita di masa depan akan jauh dari kekerasan, teror, ketidakadilan, hingga sekian persoalan lainya, yang kita hadapi saat ini.
Untuk menghindari makin lunturnya nilai-nilai luhur di kalangan generasi muda maka kita sebagai bangsa Indonesia harus tetap memegang teguh nilai-nilai luhur dalam segala aspek kehidupan. Kita juga harus bisa memilih secara selektif nilai dan budaya asing yang masuk ke dalam negeri ini. Selain itu, pemerintah kita harus menyusun ulang kebijakan tentang pendidikan atau membuat program pendidikan yang nantinya akan menghasilkan generasi bangsa yang cerdas, kreatif, dan bermutu di dunia internasional.
Dan tidak kalah penting, peran orang tua dalam membendung pengaruh-pengaruh negatif arus globalisasi. peran orang tua dibutuhkan  dalam menanamkan nilai-nilai agama dalam kehidupan anak-anaknya, memperhatikan pergaulan anaknya apakah ia dalam lingkungan pergaulan yang salah atau benar, mendidik anak-anaknya agar dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Dengan adanya langkah-langkah antisipasi tersebut, diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa. Cukup kegagalan masa lalu, dan tidak boleh kita ulang di masa depan. Ke depan bangsa ini membutuhkan penerus yang terdidik dengan baik, dan bisa mengimplementasikan pengetahuannya dalam tindakan konkret.